Rabu, 10 Februari 2016
Home »
» Multitasking, Benefit or Threat?
Multitasking, Benefit or Threat?
Awalnya istilah multitasking atau tugas ganda hanya digunakan untuk istilah teknologi informasi yang mengacu kepada sebuah metode di mana banyak pekerjaan atau dikenal juga sebagai proses diolah dengan menggunakan sumberdaya CPU yang sama dalam waktu yang sama.
Namun sekarang istilah multitasking tidak hanya digunakan untuk dunia IT, istilah multitasking kini juga digunakan pada manusia atau bisa disebut dengan ‘human multitasking’. Bedanya adalah yang berperan di ‘human multitasking’ ini sendiri adalah manusianya. Manusianya yang melakukan tugas atau aktifitas ganda dalam waktu yang sama.
Nah, Multitasking itu sendiri apa akan memberi ‘benefit’ atau ‘threat' untuk manusianya ?
Baik, saya akan share sedikit apa yang saya dapat pada 6 Februari 2016 di acara yang diselenggarakan oleh #cewequat yang bertema “Multitasking, Benefit or Threat?” yang dibawakan oleh Mbak Morin Chandra dan Mbak Nadia Mulya. Nah, sebelum saya bahas lebih lanjut tentang materi yang kemarin mereka bawakan, sudah pada tahukan siapa sosok-sosok hebat yang sangat menginspirasi tersebut?
Mbak Morin Chandra adalah Commercial Director of ADSTARS (Digital Company).
Sedangkan Mbak Nadia Mulya adalah Runner Up Putri Indonesia 2004, Book Author, MC dan Presenter. Alhamdulillah sempat foto bareng :D
Oke sekarang masuk ke pembahasan kita
Multitasking, Benefit or Threat? Banyak pendapat dari peserta yang hadir kemarin. Salah satunya ada yang mengatakan bahwa multitasking itu efisien tapi bisa jadi tidak efektif. Bagaimana menurut Anda?
Nah..
Sebenenarnya baik atau jeleknya sangat relative. Benefit or Threat itu back to the individu. Maksudnya kembali ke individunya itu gimana?
Sekarang kita lihat dulu contoh yang sangat sederhana dari multitasking yaitu menyetir mobil sambil menelpon atau membalas SMS. Nah untuk contoh yang ini sebisa mungkin dihindari karena selain dapat membahayakan diri sendiri juga bisa membahayakan orang lain. Meski tuntutan zaman memang tidak bisa murni singletasking, tapi kita tetap harus “berhitung” saat melakukan multitasking. Kalau masih wajar output yang kita hasilkan masih termonitor, baik kualitas maupun kebutuhannya, ya tidak masalah. Tapi, kalau dengan multitasking pekerjaan malah terbengkalai, sebaiknya tidak usah. Jadi, tetaplah memilih kegiatan yang saling mendukung saat melakukan multitasking.
Contoh lain dari multitasking adalah seseorang yang sudah bekerja di suatu perusahaan dan ia juga membuka wirausaha seperti online shop, belum lagi apabila ia juga menjadi seorang ibu di rumah yang harus mengurus suami, anak, dan lainnya. Wah apa gak ribet tuh?
Namun untuk para wanita kita tak perlu takut. Wanita dilahirkan sebagai multi-taskers sejati. “Girls are natural multi-taskers!”
Wanita sudah kodratnya sebagai multitasker. Bukan hanya wanita yang ‘bekerja’ yang dikatakan sebagai multitasker, bahkan wanita yang sehari-harinya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah pun sebagai multitasker, dimana wanita dalam satu waktu harus mengurus banyak hal, contohnya saja seorang ibu yang harus mengurus anak, suami, belum masaknya, dan urusan lainnya lagi dalam waktu yang sama.
Berbeda dengan pria yang lebih banyak bertipe singletasking. Oleh karena itu, laki-laki umumnya lebih fokus ketika mengerjakan tugas dan hasilnya bisa jadi lebih maksimal. Akibatnya, kerap muncul perbedaan persepsi antara suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga, bahkan sampai memicu konflik si istri menganggap suami tidak mau mengerjakan hal lain, padahal ia tipenya memang singletasker.
Survei sendiri menunjukkan, bekerja dengan multitasking tidak terlalu efektif. Pasalnya, mengerjakan satu hal dianggap lebih efektif dan optimal pada waktu bersamaan. Namun, di sisi lain multitasking sudah menjadi tuntutan zaman. Zaman sekarang sudah tidak bisa murni singletasking, pasti ada multitaskingnya. Kemajuan teknologi belakangan juga makin meningkatkan tuntutan untuk ber-multitasking. Teknologi membuat seolah harus bisa bekerja secara multitasking. Semua yang diperlukan sudah ada dalam genggaman teknologi-teknologi canggih. Laptop, tablet, iPad, ataupun smartphone dengan mudah bisa ditenteng ke mana-mana. Bahkan contohnya untuk orang yang sedang meeting, sambil meeting bisa membalas email atau melakukan deal dengan klien.
Lalu, gimana sih caranya agar multitasking kita sukses?
Berikut dua hal yang penting dalam melakukan multitasking :
1. Menentukan skala prioritas
Salah satunya adalah dengan membuat ‘priority list to do’. Jadi tugas dan aktifitas kita perlu kita identifikasi. Kita harus cermat memilih mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Jika tidak, kita akan melakukan banyak pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak. Ujung-ujungnya kita akan melakukan banyak hal secara terburu-buru dengan kualitas yang seadanya. Dengan membuat ‘priority list’ aktifitas kita menjadi lebih terarah dan tahu arah. Gunanya lagi saat kita sedang dihadapkan dengan kesibukan yang sangat banyak dan mendesak, kita jadi bisa memilih mana yang harus kita lakukan duluan, mana yang menjadi prioritas kita yang menduduki level teratas itu yang kita lakukan duluan. Lalu dari ‘list to do’ yang kita buat, kita dapat lihat mana yang memiliki hubungan yang dapat dilakukan dalam waktu yang sama. Jadi memang membuat ‘priority list’ itu sangat penting, seperti yang dikatakan Mbak Morin bahwa yang terpenting untuk menjadi multitasker adalah ‘set your priority’.
2. Listen to your body and heart
Walaupun karena tuntutan kesibukan, jangan paksakan tubuh kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut di luar porsi kita. Tetap lakukan sesuai kemampuan atau sesuai porsinya masing-masing, karena bila dipaksakan melakukan kegiatan-kegiatan ganda yang tidak sesuai porsi malah biasanya terbengkalai salah satunya atau bahkan semuanya.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya yaitu dengarkan kata hati. ‘do what you love and love what you do’, menurut saya ini sangat penting karena sejatinya kalau kita melakukan apa yang kita cintai atau yang sesuai kata hati akan tidak ada rasa berat sekalipun untuk melakukannya. Contohnya bagi orang yang mencintai menulis buku, secapek apapun ia pulang dari kantornya, karena memang ia mencintai menulis maka menulis sampai larut malam pun ia enjoy menjalaninya bahkan sangat menyenangkan baginya, tidak ada rasa berat sekalipun untuk melakukannya.
So, Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.
SO, in conclusion….
Multitasking, benefit or threat?
BENEFIT! Multitasking itu benefit bila dilakukan dengan benar. Semuanya tinggal tergantung pada individunya. Maka lakukanlah kegiatan sesuai ukuran atau sesuai porsinya, lakukan sesuai kemampuan, lakukan kegiatan ganda yang saling mendukung, tentukan skala prioritas dari kegiatan yang dilakukan, dan yang tidak kalah penting adalah ‘do what you love and love what you do’ .
Now it is our choice to make it a benefit to others as much as it a benefit to ourselves.
Kuningan City Mall #cewequat, 6 Februari 2016












0 komentar:
Posting Komentar